eSports Masuk di Asian Games 2018

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

eSports menjadi bagian dari kompetisi ekshibisi game video di Asian Games 2018. Beberapa game video yang dilombakan adalah game konsol, mobile app, dan game online. Ini adalah perayaan dan pengakuan game sebagai “olahraga elektronik” di lingkup negara Asia. Bahkan ada kemungkinan eSports akan masuk laga dunia di Olimpiade di Tokyo nanti.

Awal debat eSport bukan sebagai olahraga, karena sempat ramai saat ESPN menampilkan kompetisi video game beberapa tahun lalu.

Suasana kompetisi game online tersebut mirip menonton pertandingan tinju plus syarat entertainment. Dikelilingi penonton offline dan disiarkan secara live secara online. Penonton di lokasi bisa melihat langsung aksi atlet gamer secara langsung dan layar monitor besar di bagian atas. Para gamer duduk berkeliling di tengah-tengah penontong dan menghadapi layar monitor masing-masing.

Presiden ESPN saat itu menampik eSport bukan sebagai olahraga sesungguhnya. Menurutnya, eSport seperti kompetisi yang lain, seperti catur.

Esport Dota 2

Foto: ESPN

Diskusi ini mirip saat catur dan bridge apakah bisa disebut sebagai olahraga atau bukan. Biasanya alasan akan disebut sebagai olahraga karena memiliki kesamaan, perlu strategi, daya konsentrasi otak, adanya aturan permainan yang ketat, dan dibutuhkan daya tahan fisik. Dalam catur dan bridge, serta e-Sport memiliki kesamaan, hanya dimainkan pada media yang berbeda; satunya manual dan satunya lagi elektronik.

Jika mengacu pada empat hal di atas eSport atau game online bisa dimasukkan dalam kategori olahraga. Olahraga elektronik yang membutuhkan keempat unsur di atas. Upaya eSport masuk dalam kategori olahraga memang tidak mudah hingga KOI (Komite Olimpiade Indonesia) mengakuinya (baca di sini)

Menurut Eddy Lim, seperti yang dilansir Detik.com, dari Ligagame Esports & Indonesia eSports Association (IeSPA), Seorang atlet eSport perlu didukung tubuh yang fit dan otak yang cerdas. Untuk bisa fit, para atlet eSport perlu rutin berolahraga fisik. Sebab untuk memainkan game jenis eSport butuh konsentrasi, ketahanan fisik, darah mengalir lancar, dan oksigen yang masuk ke otak. e-Sport bukan sekadar duduk lama bermain game.

Eddy Lim juga menambahkan kemampuan di bidang pelajaran matematika dan fisika juga menjadi syarat penting bagi atlet e-sport. Para atlet e-Sport biasanya cerdas dalam kedua mata pelajaran tersebut. Jadi tidak semua para gamer addict atau hobi nggegame belum tentu bisa terjaring sebagai atlet profesional di e-Sport.

eSports

eSports adalah kategori game yang banyak dimainkan orang di dunia, dari berbagai grup usia. Tepatnya sekitar 76% game eSports dimainkan oleh orang. Riset IPOS ini dicatat oleh Google pada 2017. Dari tahun ke tahun, ketika kompetisi game video diadakan selalu bertambah. Indonesia termasuk sepuluh besar dalam jumlah penonton kompetisi game online.

Jenis eSports yang akan dipertandingkan dalam demosport Asian Games 2018 antara lain AOV, Clash Royale, Pro Evolution Soccer, League of Legends, Hearthstone, dan StarCraft 2.

Nampaknya lebih menarik jika nanti akan ada pengembangan virtual game yang melibatkan gerakan fisik tubuh manusia bisa masuk ke dalam eSports. Unsur-unsur olahraga dalam game digabungkan dengan unsur digital, hingga kategori olahraga eSports bisa mengacu pada definisi olahraga yang sesungguhnya. Perangkat game “menyatu” dengan kepala, tangan, kaki, dan tubuh, untuk memainkan game virtual reality.

***

eSports cukup mendapat respon yang menggembirakan dari para gamer. Bagi orangtua yang anaknya doyan main game, jago pelajaran eksakta, dan suka olahraga, mungkin eSport bisa jadi peluang sebagai karier atlet game profesionalšŸ¤—

Share.

About Author

Adi Baskoro, seorang pengembang konten, web, & social media ads enthusiast, tinggal di Bogor. Sampai saat ini tertarik pada konten pemasaran online, how to, dan tema sains-teknologi.

Leave A Reply